Selamat Hari Kartini! Emansipasi wanita, bukan berarti wanita harus lebih tinggi dari pria…

pengin buat tulisan baru, tapi nggak ada waktu.. Untuk memperingati hari kartini ini, saya mau republish tulisan dulu ya…

Memang itu takeline sebuah produk..tapi saya disini tidak mau iklan lho..

Kedengarannya sangat bagus, emansipasi wanita telah berhasil..

Wanita yang mengandung, bersusah payah melahirkan, merawat dan mendidik orang-orang hebat.jerih payahnya tiada terkira.

Rasa-rasanya perjuangan kartini di Indonesia saat ini telah berhasil. Wanita bisa merengkuh pendidikan yang layak, setinggi-tingginya.. sampai sarjana, master, doktor, dan seterusnya bahkan menempuh pendidikan di luar negeri. Wanita bisa bekerja. Jadi guru, dokter, PNS, penjahit, pedagang, artis, anggota dewan, pejabat pemerintah, polisi, dan semua profesi apalah itu…tidak harus menjadi ibu rumah tangga yang melulu di dapur dan hanya menanti suaminya pulang kerja. Tak harus menanti awal bulan menunggu uang bulanan dari suami.. sekarang wanita bebas melakukan apa yang dia mau tanpa rasa takut seperti jaman kartini atau sebelum-sebelumnya. Wanita menjadi pemimpin organisasi, direktur, bahkan presiden pun wanita bisa.

Kesuksesan para wanita-wanita hebat memang perlu diacungi jempol. Dengan kelembutan perasaannya, mungkin bisa mengalahkan kaum lelaki. Peran mereka dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sangat besar. Menjadi orang yang lebih berguna. Bukan waktunya lagi memperdebatkan perbedaan gender wanita dan pria. Semua sama, memiliki peran yang sama di dunia luar. Tak ada yang salah, sah-sah saja.

Lalu bagaimana dengan perempuan kepala keluarga?? Sepertinya wanita yang menjadi pemimpin dalam sebuah keluarga, pemegang kendali dalam keluarga. (dalam hal masih ada suami)

Sejujurnya saya kurang setuju dengan kalimat tersebut. Ketika masih ada sang suami dalam keluarga, suamilah tetap yang menjadi kepala keluarga. Pemegang kendali, pengambil keputusan, pengatur jalannya harmonisasi sebuah keluarga. Wanita tetap wajib menghormati dan menjungjung setinggi-tingginya harga diri sang suami. Meski wanita memiliki kehebatan segudang, peran besar dalam kehidupan. Tetaplah kodrat seorang istri adalah sebagai seorang makmum dari imamnya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah suami. Seperti pepatah jawa bahwa sang istri itu…. “Suargo nunut, neraka katut”.

Semoga saya bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anakku kelak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s